PEKANBARU, Beritaklik.Com - Forum
Education& Industrial Board (E&IB) Provinsi Riau menggesa DUDI (Dunia
Usaha dan Dunia Pendidikan) Riau serta meminta semua pihak agar tidak sekedar
mewacanakan dan retorika saja lagi, tetapi harus benar-benar mengkongkritkan link and match antara dunia usaha dengan dunia pendidikan yang
ada di Provinsi Riau, karena suka tidak suka AFTA 2015 sudah di depan mata,
Kajian ini menjadi pusat perhatian dan skala prioritas dari Pengurus E&IB
yang baru saja terbentuk dibawah pimpinan Peri Akri, SE, MM ketika beraudiensi
dengan Ketua dan Dewan Pengurus APINDO (Asosiasi
Pengusaha Indonesia) Provinsi Riau Helfried Sitompul diKantor Apindo serta Pengurus KADIN (Kamar Dagang dan Industri)
Riau yang diterima Wakil Ketua Kadin Riau, H.Caidir di Kantor Kadin Jl.
Sudirman Riau, Senin,(07/04/2014)
Ketua Forum E&IB
Riau, Peri Akri, SE,MM yang didampingi Wakil Ketua Yudha Bakti, dan Kepala
Humas E&IB Ir. Nurul Huda, MH. kepada Media menjelaskan, "Kunjungan kepada
dua lembaga yaitu APINDO dan KADIN Riau adalah bentuk roadshow dan program dari
E&IB kepada para stakeholder (pemangku kepentingan) dunia usaha, yang
sebelumnya juga kita lakukan kepada dunia pendidikan, dan kan tetap terus
berjalan seiring waktu tanpa henti, yang merupakan bentuk pengejawantahan dari eksistensi,
visi dan misi E&IB Riau".
Kita
menganalisis saat ini ada kegelisahan pada Dunia Pendididikan dan Dunia Usaha,
disatu sisi Dunia Usaha gelisah karena tamatan dunia pendidikan yang
diterimanya relatif harus dia training ulang ditempat kerja sebelum ditempatkan
dilapangan, sudah pasti butuh cost (biaya) lagi bagi perusahaan, sementara
Dunia Pendidikan juga gelisah kenapa
tamatan mereka tidak dapat diterima secara meyakinkan di Dunia Usaha. Hal ini
terjadi dimungkinkan karena kurangnya link
and match antara dunia usaha dengan dunia pendidikan, Apalagi mengingat Tahun
2015 Indonesia akan memasuki area
perdagangan bebas ASEAN yaitu AFTA
(ASEAN Free Trade Area), yang menuntut Indonesia harus siap berkompetisi
dalam perdagangan bebas berbagai komoditi termasuk tenaga kerja, bagi masyarakat Riau hal ini
tidak boleh lalai dan berdiam diri lagi, jangan salahkan nanti jika tamatan
dunia pendidikan kita hanya akan jadi Penonton, kalah bersaing dengan
Negara-negara ASEAN lainnya", Demikian Peri Akri menyampaikan.
Sejalan dengan
Ketua E&IB diatas, Ketua APINDO Riau Helfried Sitompul menyampaikan, "Fakta
yang ada saat ini, dunia usaha tidak akan mungkin berfikir mundur atau
menunggu-nunggu tamatan dunia pendidikan untuk penyesuaian link and match ini, Ibarat kenderaan, akselari dunia usaha akan
terus cepat dan berkembang sesuai dengan perkembangan ekonomi dunia, Contoh
kasus: di daerah Duri beberapa perusahaan butuh Tenaga Welder (las) dengan Gaji
Rp. 7,5 Juta/bulan, akan tetapi karena selama ini Dunia Pendidikan tidak pernah
melakukan analisis tamatannya dengan kebutuhan dunia kerja, maka
tamatan-tamatan SMK yang punya sfesifikasi dan Jurusan welder ini luput dari
kurikulumnya. Sehingga ketika perusahaan butuh tenaga welder dengan gaji Rp.7,5
Juta/bulan tersebut payah mendapatkannya, kalupun ada harus pakai (ditambah)
dibujuk yang bergaji Rp. 7,5 Juta/bulan tenaga welder tersebut. Ini Fakta!."
Demikian Helfried menyampaikan.
Turut hadir
dalam audiensi pengurus E&IB adalah: Johan Ridarto (Disperindag Riau), Dwi
Gusneli (Kepala SMKN 2), Novyandre (Training Manger ATC Riau) (Bk.1)
Keterangan
Foto : Pengurus E&IB Riau Audiensi Dengan
Pengurus APINDO Riau.
Keterangan Foto : Pengurus E&IB Riau Audiensi
Dengan Pengurus KADIN Riau