Partisipasi Pemilih Pada Pemilu Legislatif 2014 Yang Digelar 9 April Kemarin Meningkat

Selasa, 15 April 2014

BENGKALIS, Beritaklik.Com - Partisipasi pemilih pada Pemilu Legislatif 2014 yang digelar 9 April kemarin meningkat dibandingkan saat Pilgubri 2013 lalu. Dimana dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT), hanya sekitar 27 persen tidak melakukan pencoblosan atau golput. Dengan kata lain partisipasi pemilih mencapai 73 persen.

"Golput masih ada. Dari data yang kami peroleh pada Pemilu 9 April kemarin, sekitar 27 persen ke bawah atau tidak sampai angka 30 persen dari keseluruhan DPT," ungkap Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Bengkalis, Zulfan Herri kepada wartawan, Selasa (15/4).

Menurut Zulfan, dari jumlah angka golput tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka golput pada penyelenggaraan Pilgubri lalu yang mencapai 40 persen. Dengan demikian tingkat partisipasi pemilih terhadap penyelenggaraan Pemilu 9 April 2014 lalu cukup tinggi dan lebih baik, mencapai sekitar 74 persen dari keseluruhan pemilih dalam
DPT 365.706 jiwa. "Artinya, partisipasi pemilih pada Pemilu cukup tinggi dibandingkan dengan Pilgubri yang lalu dari total DPT yang ada," ujar Zulfan.


Caleg Perempuan

Di lain pihak, kuota 30 persen yang diberlakukan untuk calon legislatif (caleg) perempuan di seluruh Indonesia, gagal dimanfaatkan dengan baik oleh kaum hawa di Kabupaten Bengkalis. Hasil perolehan sementara di enam daerah pemilihan (Dapil) di Bengkalis, hanya 2 atau 3 caleg perempuan yang bakal duduk sebagai anggota DPRD Bengkalis periode 2014-2019.

Dari hasil rapat pleno PPS di tingkat desa/kelurahan di seluruh kabupaten Bengkalis, untuk Dapil Bengkalis-Bantan yang berjumlah 10 kursi dan Rupat Utara sebanyak 4 kursi hampir dipastikan tidak ada kalangan perempuan yang terpilih, atau memenuhi kuota suara. Sementara itu dari Dapil Bukitbatu-Siak Kecil satu dari lima kursi bakal diisi kaum hawa atas nama Aisyah (Partai Golkar).

Sedangkan dari Dapil Mandau A baru satu perempuan yang diperkirakan duduk menjadi wakil rakyat Bengkalis, yaitu Rismayeni (Demokrat) yang juga caleg incumbent. Untuk dapil Mandau B, dari tujuh kursi yang tersedia, diperkirakan tidak ada caleg perempuan yang lolos. Untuk dapil Pinggir belum diperoleh perolehan suara, namun diperkirakan kalau-pun ada caleg perempuan yang terpilih tidak lebih dari satu orang.

"Dari hitungan sementara dan pasca pleno di PPS, dari 45 kursi DPRD Bengkalis paling-paling hanya 2 sampai 3 kursi yang diisi kaum perempuan. Ini menandakan caleg perempuan di Kabupaten Bengkalis mayoritas belum layak jual ke masyarakat, serta masih rendahnya kepercayaan kepada perempuan untuk menjadi wakil rakyat," ungkap pemerhati politik dan pembangunan Bengkalis, Hamidi,  Selasa (15/4).

Selain kurangnya kepercayaan masyarakat kepada caleg perempuan juga disebabkan faktor minimnya sosialisasi dari caleg perempuan itu sendiri ketengah calon konstituen. Hal itu mengakibatkan kaum laki-laki lebih gencar melakukan pendekatan ketengah pemilih dengan berbagai iming-iming supaya dipilih dibanding kaum wanita.

Situasi tersebut tambah Wakil Ketua I Gapensi ini, membuat kuota 30 persen caleg perempuan menjadi mubazir atau tersia-siakan. Padahal dari sisi amanah, perempuan biasanya lebih bisa memegang amanah dari kaum pria, namun faktor politik serta kepiwaian dalam melakukan mobilasasi membuat caleg perempuan tertinggal dalam melakukan pergerakan.

"Dalam sejarah di DPRD Bengkalis, kuota perempuan yang mengisi kursi di parlemen juga tidak pernah melebihi dari angka 10 persen dari kursi yang ada. Hanya saja, kuota wajib minimal 30 persen komposisi caleg diisi wanita menjadi sia-sia padahal perempuan lebih berpotensi menjadi wakil rakyat dalam hal menjaga kepercayaan,” tutup Hamidi. (Bku)