4.000/Kg, Harga Karet Semakin Jeblok

Rabu, 07 Mei 2014

BANTAN, Beritaklik.Com - Duka para petani karet di pulau Bengkalis kembali berlanjut. Rasanya belum kering air mata menangisi kebun karet yang ludes terbakar saat musim kemarau sekitar sebulan lalu, kini mereka harus kembali menerima kenyataan pahit. Harga karet sejak dua pekan lalu terjun bebas ke level Rp 4000/kg.

Harga yang sangat rendah, bahkan terbilang paling rendah sejak kenaikannya mencecah leveh Rp 20 ribu sekitar 3 tahun lalu. Bagaimana petani karet tidak menjerit, harga serendah itu tidak cukup untuk membeli sekilo beras.

Seperti dituturkan Sudin warga Teluk Pambang Kecamatan Bantan, Selasa (6/5). Karena dirinya menakik (menoreh,red) kebun karet milik orang, maka hasil karet yang diperoleh dibagi dua. Kalau harga hanya Rp 4000/kg, maka dirinya hanya kebagian Rp 2000 saja perkilogram.

"Selama ini kalaupun harga ojol turun, paling di sekitaran Rp 7000-Rp 8000, rasanya tidak pernah sampai serendah ini sejak tiga tahun terakhir. Bagi kami yang hanya jadi buruh di kebun milik orang, rasanya kondisi seperti ini sangat-sangat sulit," kata Sudin.

Beberapa bulan lagi kata Sudin memasuki hari raya dan musim masuk sekolah, jika kondisi atau harga ojol tetap dikisaran dibawah Rp 7000, bisa dibayangkan sulitnya para petani da buruh-buruh karet memenuhi kebutuhan hidup.

"Mudah-mudahan harga serendah ini tidak sampai bertahan berbulan-bulan, jelang puasa atau haru raya nanti harga kembali naik. Setidaknya kalau harga agak lumayan bisa para orang tua tak begitu pusing memikirkan anaknya yang ingin nyambung sekolah," harapnya.

Lain lagi Mazlan, warga desa Kembung Luar ini lebih memilih manyabung nasib di negeri jiran Malaysia. Walau harus menjadi kuli bangunan dan sesekali harus sembunyi dari razia polis Malaysia, namun uang yang didapat setiap bulannya cukup lumayan.

Mazlan memang sejak beberapa bulan lalu mengadu nasib ke Malaysia atau tepatnya saat musim kemarau melanda. Sejatinya, usai usim kemarau ini dirinya akan kembali menakik karet di kampung, tapi karena harga karet cukup rendah, dirinya kembali bekerja ke Malaysia.

"Petani karet itu memang agak delima. Saat musim kemarau susu atau getah karet mengering (sedikit,red) karena saat itu daun getah berguguran. Sejatinya sekarang ini sedang banyak susu, karena hujan sudah sering turun, tapi sayangnya harganya pulak yang jeblok. Ya terpaksa kembali mengadu nasib ke Malaysia," ujar ayah satu orang anak ini. (Bku)