
Salah satu titik abrasi yang terjadi di Pulau Bengkalis.
Salah satu titik abrasi yang terjadi di Pulau
Bengkalis.
BANTAN, Beritaklik.Com - Abrasi yang
terjadi di pantai sejumlah desa Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis hingga
saat ini belum ditangani secara optimal, sejumlah kawasan bibir pantai
kondisinya sudah tergolong parah, titik lokasi abrasi terjadi di Desa Jangkang,
Desa Bantan Air, dan Desa Muntai.
Sedangkan di Kecamatan Bengkalis terjadi di Desa Meskom, terutama di daerah
Perapat Tunggal, untuk itu Pemerintah Pusat dan Provinsi diminta untuk turun
tangan dalam melakukan upaya penanggulangan.
Anggota DPRD Bengkalis Dapil Bantan, Sofyan megatakan, abrasi terjadi di
beberapa desa seperti Desa jangkang tepatnya menuju ke arah Dusun Parit Tiung,
Dusun Penampo dan Deluk, semakin hari semakin parah. Rata-rata setiap bulannya
abrasi terjadi sekitar 3-4 meter.
''Hingga saat ini penanganan terhadap abrasi di Bantan kita nilai masih belum
optimal, ada kebun masyarakat, tempat pengumpulan ikan nelayan juga sudah mulai
amblas dihantam abrasi. ini tak bisa dibiarkan, abrasi semakin membahayakan
masyarakat kita, jadi mesti ada sinergi antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan
Kabupaten dalam menanganinya,'' tutur Sofyan, Kamis (3/7).
Saat ini banyak perkebunan karet warga mulai tenggelam akibat hantaman abrasi.
Bahkan salah satu bedeng batu milik warga di Bantan Air sudah ambruk disapu
abrasi.
''Masyarakat Bantan sudah berupaya melakukan penanggulangan dengan melakukan
penamanan mangrove secara bersama-sama. Akan tetapi upaya itu hanya bersifat
sementara. Karena sepanjang bibir pantai semestinya dibangun turap penahan
gelombang," ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan Sofyan, Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan juga Provinsi
Riau hendaklah secara bersama-sama menangani abrasi secara serius, apalagi
daerah kabupaten bengkalis berbatasan langsung dengan selat Malaka atau negara
tetangga
"Kita berharap selain pemerintah Kabupaten, Provinsi juga ikut andil dalam
penanganan abrasi ini, karena jika dibebankan kepada APBD Bengkalis saja tidak
akan cukup dana untuk membangun turap sepanjang pulau, jadi harus melibatkan
provinsi dan juga pemerintah pusat, melalui APBN," tutup alumni Pondok Modern
Nurul Hidayah Bantan Tua ini. (Bku)