
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Sejumlah harga komoditi
perkebunan di Pulau Bengkalis mengalami penurunan pasca lebaran. Seperti karet
dan tandan buah segar (TBS) sawit, penurunan harga ini mengakibatkan para
petani yang mengandalkan penghasilan dari komoditi ini mengeluh.
Sebelumnya harga getah karet eceran mencapai Rp7 ribu-Rp8 ribu, saat ini hanya
di kisaran Rp5 ribu-Rp6 ribu. "Sekarang turun lagi, eceran harganya
kemarin hanya Rp5 ribu perkilo padahal sebelumnya sempat Rp7 ribu," ungkap Seri
(24), salah seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari menyadap karet di Desa
Jangkang, Kecamatan Bantan, Kamis (21/8).
Sedangkan TBS sawit, sebelumnya untuk ukuran kecil dihargai Rp800 perkilogram,
sekarang hanya Rp500 perkilogram. Sedangkan untuk TBS ukuran besar sebelumnya
mencapai Rp1.000 perkilogram sekarang hanya Rp800 perkilogram. "Sawit terus
turun sekarang, yang kecil hanya Rp500 perkilo dan yang besar sekitar Rp800
perkilonya," ujar Suji (45), salah seorang pemilik kebun sawit beberapa hektar
di Kecamatan Bantan.
Terus menurunnya harga getah karet dan sawit sejak dua bulan terakhir, membuat
penduduk yang mengandalkan sumber pendapatan atau penghasilan dari dua komoditi
tersebut ketar ketir untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Harga
kebutuhan pokok terus meningkat, sementara penghasilan yang diharapkan dari harga
komoditi ini terus menurun.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Bengkalis. Masuri,
mengatakan, dengan terus menurunnya harga komoditi petani khususnya karet di
pasaran sebagai sumber utama penghasilan, perlu disikapi pemerintah. Menurutnya,
petani karet tidak punya pilihan selain hanya untuk menjual ke penampung besar
yang ada di Bengkalis. Oleh karena itu, Bengkalis sudah sangat layak memiliki
pabrik karet yang representatif yang bisa memproduksi skala besar.
"Dengan adanya infrastruktur yang kuat dan petani yang andal, Bengkalis sudah
layak memiliki pabrik dari hulu ke hilir. Dengan catatan, masyarakat diajari
tentang berkoperasi yang baik, karena setiap desa sudah memiliki dana UED-SP
untuk membantu usaha masyarakat," paparnya seraya menambahkan pemerintah harus
memperkuat penyuluhan di PPL, dan penempatan dasar personil yang tepat sasaran.
(Bku)