
PEKANBARU,Pemprov
Riau menggelar pertemuan dengan Satuan Kerja (SK) sementara usaha hulu minyak dan gas bumi kementerian energi dan sumber daya
mineral. Dalam pertemuan itu tiga kontrak
kerjasama (KKS) pengelolaan minyak
dan gas (Migas) mengajukan izin pemanfaatan sumur minyak baru
kepada Pemprov Riau, Senin (14/1) dikantor
Gubernur.
Dalam pertemuan
itu Pemprov Riau diwakili oleh Asisten II Sekdaprov Riau Drs. Emrizal Pakis, dijelaskannya pertemuan itu
berkaitan perubahan struktur BP
Migas menjadi struktur satuan kerja khusus Migas."Bagaimanapun kita sangat membutuhkan
organisasi ini berkaitan dengan pengelolaan
minyak dan gas di Riau," ujarnya kepada Media Riau.
Lebih jauh dikatakannya, tiga KKS tersebut yakni
Malacca Strait di Pulau Padang
Kabupaten Meranti, Sumatera Persada Energi (SPE) dan Sarana Pembangunan Riau (SPR) mengajukan izin pada
Pemprov untuk mengoperasikan
beberapa sumur minyak.
"SPR ingin mengoperasionalkan 3 sumur minyak
lagi dari 22 yang sudah beroperasi,
begitu juga SPE yang ingin menambah 2 sumur minyak," aku Emrizal.
Sementara Malacca Starit yang dulunya PT. Kudur
dikatakan Emrizal Pakis ingin
membangun pipa bawa laut dari Kurau ke Selat Lalang. Terkait pengajuan itu diakui Emrizal Pemprov Riau
tidak ada masalah asalkan tidak
menganggu dan bertentangan dengan izin lingkungan.
"Yang penting mereka sudah mendapat surat
keputusan kelayakan lingkungan,
dan surat keputusan lainnya. Semua tidak ada masalah," ucap Emrizal.
,"kita hanya meminta mereka untuk
memperhatikan masalah lingkungan karena
sangat berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan," pungkas
Emrizal.
Diakui Emerizal dengan bertambahnya pengoperasian
sumur minyak di Riau otomatis akan
berdampak pada dana bagi hasil Migas Riau.
"Produktifitas Migas dapat mendongkrak dana
bagi hasil Riau ini jelas menguntungkan
kita," jelasnya lagi.
Seperti diketahui, ketiga KKS ini telah berhasil
memproduksi ribuan barela minyak
perhari, PT. Kundur memproduksi 5600 barel, SPE 500-600 barel. (Rif)