Bengkalis Raih Penghargaan Energi Prakarsa

Sabtu, 20 September 2014

Kepala Balitbang, Dr. Sopyan Hadi menyerahkan penghargaan Energi Prakarsa dari Kementerian ESDM kepada Bupati Bengkalis, H Herliyan Saleh di sela-sela peringatan Hari Kesadaran Nasional dan Hari Perhubungan di halaman Kantor Bupati, Rabu (17/9).

Kepala Balitbang, Dr. Sopyan Hadi menyerahkan penghargaan Energi Prakarsa dari Kementerian ESDM kepada Bupati Bengkalis, H Herliyan Saleh di sela-sela peringatan Hari Kesadaran Nasional dan Hari Perhubungan di halaman Kantor Bupati, Rabu (17/9).

BENGKALIS, Beritaklik.Com -
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Bengkalis, Dr, Sopyan Hadi meraih penghargaan Energi Prakarsa dari Kementerian Energi Sumberdaya Mineral, baru-baru ini, Karya nyata berupa pengembangan bahan bakar nabati (BBN) bioethanol dari nipah mengharumkan nama Kabupaten Bengkalis di kancah nasional.

Bupati Bengkalis, H Herliyan Saleh, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas keberhasilah yang dicapai oleh Kepala Balitbang tersebut. Diharapkan, karya nyata yang dihasilkan benar-benar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat banyak. Sehingga ketergantungan terhadap bahan bakar fosil secara bertahap bisa dikurangi.

"Harapan kita, lebih dari itu bagaimana karya yang dihasilkan ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, melainkan juga membuka peluang usaha yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat," ujar Herliyan Saleh saat menerima tanda penghargaan anugerah Energi Prakarsa dari Sopyan Hadi di sela-sela peringatan Hari Kesadaran Nasional dan Hari Perhubungan, Rabu (17/9).

Harapan yang disampaikan oleh Bupati tersebut sudah terlintas di pikiran Sopyan Hadi. Menurut pria yang baru saja meraih gelar doktor ini, upaya pengembangan lebih lanjut terhadap percepatan hasil temuan, dirinya menyampaikan konsep dan skema yang diinginkan untuk ditindaklanjuti oleh Pemerintah Pusat.

Skema pengembangan dari hasil penelitian Kabupaten Bengkalis yang akan disampaikan ke Kementerian ESDM serta para pemerhati dan pemangku kepentingan terhadap energi khususnya bahan bakar nabati berpijak dari beberapa permasalahan yaitu, permasalahan pertama, krisis ketergantungan 100% bahan bakar fosil yang belum ke arah bahan bakar non fosil atau mix energi.

Permasalahan kedua adalah besarnya beban subsidi pemerintah di APBN-P 2014, beban subsidi energi sudah membengkak menjadi Rp453,3 triliun, terbagi untuk subsidi BBM Rp 350,3 triliun dan listrik Rp103 triliun. Permasalahan ketiga adalah krisis lingkungan dan ekonomi sosial masyarakat dari peningkatan emisi gas buang kendaraan mengunakan BBM fosil. Sementara penyediaan energi yang melibatkan kepada penciptaan lapangan kerja masyarakat, pengentasan kemiskinan melalui pengembangan dari desa-desa mandiri energi bioethanol berbasis potensi lokal. (Bku)