
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Bahan Bakar Nabati (BBN) biothanol
yang diolah dari nipah merupakan alternatif sumber BBN masa depan.
Keberadaannya diyakini bakal mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap
bahan bakar fosil yang selama ini menyedot keuangan negara dalam bentuk subsidi
yang cukup besar.
Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten
Bengkalis, Dr Sopyan Hadi, manfaat yang diperoleh setidaknya 1. Sudah
mengunakan bahan bakar non fosil dan menghemat BBM fosil sebesar 10 %, 2.
Kualitas oktan BBN lebih tinggi dari 95 dengan kualitas pembakar sempurna,
rendah emisi dan lebih hemat ramah
lingkungan, 3. Harga jual BBN Mix bioethanol tidak terlalu mahal dibandingan
dengan produk BBM fosil oktan sejenis yang masih import, contoh Pertamax Plus 4.
Bioethanol merupakan sumber energi terbaharukan yang menciptakan lapangan kerja
tinggi dan pengetasan kemiskinan dalam memproduksinya. Namun demikian, dalam
pengimplementasiannya tidak semudah yang dibayangkan. Salah satunya adalah
belum ada regulasi yang mengatur secara jelas tentang perdagangan BBN, serta
bagaimana peran Pemerintah Pusat melalui Pertamina dalam pemasaran produk
bioethanol ini.
"Kalau dari sisi produksi sebenarnya tidak ada masalah, karena bahan baku
banyak tersedia dan secara teknologi kita mampu," kata Sopyan.Sambil menunggu
adanya regulasi, menurut alumni Fakultas Perikanan UNRI ini, pada tahap awal
perlu diterapkan kawasan terbatas produksi biothanol dalam bentuk BBN Mix,
yaitu campuran antara bioethanol dan premium dengan perbandingan tertentu. Ada
beberapa skema yang ditawarkan yaitu skema 1 dengan penekanan pada pertumbuhan
cepat produsen bioethanol Rp50.000,-/L dan penyesuaian harga BBM fosil premium
substitusi Rp8.000,-/L).
Untuk 10 liter BBN MIX oktan diatas 95 diperlukan 1 liter bioethanol dengan
harga Rp50.000,-/L dan ditambah 9 liter
BBM fosil premium subsidi yang dibeli seharga Rp8.000,-/L didapatkan untuk 10
Liter harga total sebesar Rp122.000,- atau Rp12.200/Liter.
Kemudian skema 2 dengan penekanan pertumbuhan lambat produsen bioethanol
Rp30.000,-/L dan penyesuaian harga BBM fosil premium substitusi Rp10.000,-/L. Untuk
10 liter BBN MIX oktan diatas 95 diperlukan 1 liter bioethanol dengan harga
Rp30.000,-/L dan ditambah 9 liter BBM
fosil premium subsisdi yang dibeli seharga Rp10.000,-/L didapatkan untuk 10
Liter harga total sebesar Rp120.000,- atau Rp12.000/Liter.
Menurut Sopyan, penekanan skema untuk bahan bakar nabati mix atau campuran
bioethanol dan premium dengan perbandingan 1 : 9 atau substitusi 10% bioethanol
yang dianjurkan pemerintah, saat ini yang diperlukan kearah skema model tata
niaga yang saling menguntungkan, dan menumbuhkan kemandirian energi di tingkat
lokal berbentuk penerapan kawasan khusus bahan bakar nabati.
"Kawasan ini terbatas dalam penentuan harga jual serta harga peneyeimbang untuk
kebutuhan pembelian BBM substitusi premium subsidi dengan harga khusus dan
harga bioethanol yang juga khusus," kata Sopyan.
Guna mewujudkan ini perlu dukungan pemerintah pusat untuk menerapakan suatu
percontohan kawasan khusus bahan bakar nabati yaitu di Provinsi Riau serta
dukungan PT Pertamina untuk membantu penyedian substitusi untuk kebutuhan BBN
mix yaitu BBM Fosil subsidi dengan harga khusus yang tidak merugikan dan membebankan
negara yaitu antara harga skema Rp8.000,- - Rp10.000,-/L.
"Kemudahan perizinan membangun tangki-tangki blanding, stasiun pengisian atau
SPBU BBN di beberapa tempat yang bertemakan promosi energi BBN PRO ENVIRONMENT,
PRO JOB, PRO POOR serta kemudahan memasarkan produk bioethanol Balitbang
Bengkalis dengan merek 'ECOFUEL' hasil asli produk Indonesia murni dalam bentuk
kemasan 1 liter yang bisa dipasarkan menyeluruh di seluruh SPBU Indonesia,"
harap Sopyan. (Bku)