
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Sejumlah warga berdomisili di
Pulau Bengkalis mulai kesulitan memperoleh gas elpiji 3 kilogram (kg). Apakah
kondisi ini disebabkan pengaruh dari kenaikan harga gas elpiji 12 Kg beberapa waktu
lalu atau sebab lain, belum dapat dipastikan.
Kesulitan memperoleh kebutuhan dari program konversi minyak tanah sejak
beberapa tahun lalu itu, seperti dirasakan Dewi (30), ibu rumah tangga di Desa
Bantan Tengah, Kecamatan Bantan. Gas elpiji 3 Kg yang biasanya mudah diperoleh,
sejak akhir pekan lalu Ia mengaku mulai susah menukarkan tabung yang sudah
kosong.
"Bang gasnya habis, dicari di kedai besar pun katanya persediaan belum masuk.
Biasanya ada terus, kok tiba-tiba payah dicari. Jadi, tak bisa goreng ikan asin
sekarang, terpaksa pakai kayu bakar," ujar janda beranak dua, Selasa (30/9).
Kondisi serupa dialami Boinah (55), warga Desa Jangkang, Kecamatan Bantan.
Sejak dua hari yang lalu, tidak lagi menggunakan gas elpiji 3 Kg, karena
mengaku tidak ada persediaan lagi gas elpiji di warung tempat yang biasa
ditukarkan dengan tabung kosong. Biasanya memasak lebih banyak menggunakan gas,
sekarang harus mencari kayu bakar ke hutan.
''Dua kedai di sini tak ada lagi gas sejak dua hari lalu, biasanya. mudah dan
terus ada. Sekarang semuanya masak menggunakan kayu," ungkapnya, Rabu (1/10).
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bengkalis
Muhammad Fauzi melalui Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Raja Airlangga
mengatakan, pihaknya belum menerima laporan adanya kelangkaan gas elpiji
konversi 3 Kg itu. Menurutnya, kemungkinan besar kelangkaan gas tersebut
disebabkan penyeberangan atau roo dari dan ke Sungai Selari (Pakning)-Air Putih
(Pulau Bengkalis) mengalami kendala.
"Akan dikroscek ke agen kenapa bisa terjadi, warga sulit membeli gas 3 Kg itu.
Bisa jadi karena adanya kendala di transportasi penyeberangan,'' ujarnya. (Bku)