
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Beberapa waktu
lalu, tim dari Jepang yang diketuai Profesor Masao Ukita dari Yamaguchi
University mengunjungi Stasiun Riset Bioethanol Balitbang Bengkalis. Dalam
kunjunganya, guru besar universitas terkenal di Jepang ini memilki ketertarikan
terhadap pengembangan energi baru terbarukan bahan bakar bioethanol nipah oleh Balitbang
Bengkalis.
Hal ini terlihat dari antusiasnya para tamu-tamu dari Jepang untuk melihat
langsung potensi hutan mangrove dan proses produksi di Stasiun Riset
Bioethanol di Lubuk Muda Kecamatan Siak Kecil. Mereka cukup tertarik dengan
usaha Balitbang Bengkalis yang sudah mulai secara bertahap melakukan riset dan
pengembangan bahan bakar non fosil seperti bioethanol dalam penghematan
bahan bakar fosil yang lebih ramah lingkungan.
"Di Jepang sendiri, mereka belum memulai usaha pemanfaatan bioethanol dari
bahan baku nipah," ujar Kepala Balitbang Bengkalis Dr Sopyan Hadi SPi MT kepada
wartawan, Minggu (26/10).
Menurut Sopyan yang ikut mendampingi romobongan dari Jepang dengan jumlah
sekitar 10 orang tersebut, di Jepang tanaman energi seperti nipah menjadi
keunikan tersendiri yang bisa tumbuh di tepi pantai. Keberadaan buah tanaman
mangrove ini yang tidak memerlukan pemeliharaan dan pemupukan memilki
manfaat ganda untuk proteksi pantai serta juga manfaat energi baru
terbaharukan.
"Apa yang kita lakukan mengundang decak kagum dari para tamu-tamu yang berasal
dari perguruan tinggi di Jepang. Mereka akan menjadikan hasil riset
ini sebagai literatur ilmiah di Jepang yang bermanfaat untuk
kemaslahatan umat manusia dan lingkungan di dunia," ujarnya.
Stasiun riset Bioethanol Balitbang Bengkalis walau masih sederhana, menurut
Sopyan tidak hanya dikunjungi tamu-tamu dari Jepang, melainkan juga tamu-tamu
dari beberapa daerah baik kepala daerah, mahasiswa, kelompok pengembangan
teknologi desa dan lain-lain. "Secara bertahap tapi pasti kita akan
bertekad agar stasiun riset bioethanol ini dapat terus berkembang," ujar
Sopyan. (Bku)