
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Tidak
hanya DPRD Bengkalis, sejumlah kalangan juga menyayangkan besarnya sisa
anggaran (Silpa) saban tahun. Jika tahun 2013 lalu Silpa mencapai Rp 600 miliar
lebih, tahun 2014 ini lebih besar lagi. Silpa 2014 diasumsikan sebesar Rp 885
miliar lebih.
Sejumlah kalangan menilai, yang menjadi
biang kerok besarnya Silpa setiap tahun adalah, lambatnya proses lelang di ULP
Bengkalis. kendati sejak beberapa tahun terakhir APBD disahkan awal tahun,
namun sebagian kegiatan selalu saja dilakukan di penghujung tahun.
"Setiap tahun persoalannya itu ke itu saja, saya yakin kalau proses tendernya
selesai di awal atau pertengahan tahun kasusnya tidak akan seperti ini, karena
rekanan punya banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan," ujar Muhammad Rozali
SH tokoh muda Bantan, Jumat (19/12).
Ketua Forum Peduli Bengkalis ini menambahkan, keterlambatan proses lelang tidak
hanya berdampak kepada besarnya Silpa, tapi juga kualitas proyek. Rekanan pemenang
tender berusaha menyelesaikan pekerjaan, tak jarang harus kerja sampai tengah
malam. Akibatnya, banyak pekerjaan yang selesai namun kwalitasya tidak sesuai
harapan.
"Itu resiko, soalnya kalau tak selesai rekana atau perusahaannya kena
blacklist. Jadi apapun cara pekerjaan harus selesai tanpa memperhatikan kualitasnya,
apalagi kalau konsultan pengawas dan PPTK nya juga acuh dengan pekerjaan di
lapangan," imbuh Rozali.
Dana sebesar Rp 885 miliar kata Rozali, sejatinya bisa digunakan untuk banyak
hal, sayang anggaran tersebut kembali ke kas negara dan baru bisa digunakan
lagi pada tahun anggaran berikutnya. "Kunci utama adalah proses tender, tender
makin lambat maka akan semakin besar dana Silpa," ujarnya.
Keterlambatan proses lelang kata Rozali, tidak semata karena masing-masing
Satker lambat menyerahkan berkas ke ULP, bisa jadi ketika berkas sudah
diserahkan terjadi banyak kepentingan yang merecoki panitia lelang.
"Isu suap, pengaturan dan hal-hal lain yang terdengar saban tahun, juga bisa
menjadi penyebab proses tender lambat. Kuncinya, kalau semua pihak berkomitmen
memperkecil Silpa, anasir-anasir seperti itu harus disingkirkan. Lain hal kalau
memang kita acuh dengan kondisi yang ada, mau Silpa atau tidak ora urus," papar
Rozali. (Bku)