
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Total
luas Kebakaran Lahan dan Hutan (Karhutla) di sejumlah lokasi di Kabupaten
Bengkalis hingga saat ini ditaksir mencapai 20 hektare. Luas lahan yang
terbakar diperkirakan akan semakin luas mengingat sampai saat ini sejumlah
Karhutla masih terjadi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah-Pemadam Kebakaran (BPBD-Damkar)
Kabupaten Bengkalis, Much Jalal melalui Kabid Damkar, Suiswantoro, Minggu
(8/2), mengatakan, lokasi kebakaran yang terpantau sedang ditangani antara
lain, 4 titik di Kecamatan Siak Kecil, 3 titik di pukat Rupat, 2 titik di Bukit
Batu, 1 titik di Bantan dan 1 di Bengkalis.
"Untuk di Siak Kecil Karhutla terjadi di Sungai Linau dan Langkat. Lokasi
Karhutla sangat jauh sulit dijangkau. Hanya ada jalan setapak menuju lokasi
kebakaran yang jauhnya mencapai 6 KM. Anggota terpaksa memikul peralatan
pemadaman," ujar Suiswantoro.
Untuk lokasi kebakaran di Buruk Bakul, Kecamatan Bukit Batu ditangani Regdam PT
Surya Dumai, PT Arara Abadi, BPBD-Damkar dan Polsek Bukit Batu. Luas lahan yang
terbakar sekitar 2-3 hektar. Upaya pemadaman yang dilakukan Regdam Damkar
dibantu Masyarakat Peduli Api (MPA), Regdam Kecamatan serta ROK perusahaan.
"Regu pemadam kita dibantu MPA dan RPK perusahaan aktif merespon seluruh
laporan yang masuk dan langsung terjun melakukan pemadaman. Hanya memang di
beberapa lokasi Karhutla sangat sulit kita jangkau, selain itu cuaca juga cukup
panas ditambah hembusan angin yang cukup kencang," tambah Suis.
Hampir bisa dipastikan kata Suis, sebagian besar
karhutla terjadi karena disengaja yang punya lahan karena membakar dianggap
cara yang paling cepat, murah dan efisieni untuk membersihkan lahan atau
membuka lahan perkebunan baru.
Seperti kebakaran di Desa Pematang Duku Timur. Kebakaran yang terjadi sejak
seminggu lalu itu belum berhasil dipadamkan. Punca kebakaran diduga akibat
pembukaan lahan baru oleh sejumlah oknum masyarakat. "Informasi yang kita
dapat, lokasi kebakaran masih milik PT Rimba Rokan Lestari (RRL). Lahan ini
memang belum digarap perusahaan, tapi ada oknum masyarakat yang mengokupasi
(menggarap) lahan tersebut. Di sanalah muncul titik api itu," sebut Suis
lagi.
Seperti sering disampaikan Bupati kata Suis, saat ini kondisi cuaca cukup panas
dan hembusan angin juga kuat, kondisi semacam ini sangat rentan terjadi
kebakaran. "Kembali kita himbau agar kita tidak melakukan pembakaran di
saat musim kering seperti sekarang ini, baik saat membersihkan maupun ketika
membuka lahan baru. Jika sudah terjadi kebakaran bukan hanya si pembakar yang
dihadapkan pada proses hukum tapi masyarakat banyak juga dirugikan akibat asap
yang ditimbulkan," ujarnya. (Bku)