
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Abrasi di Pulau Bengkalis sudah terjadi
sejak tahun 60-an. Puluhan hektar daratan amblas ke laut, namun sejauh ini
belum ada penanganan serius dari pihak -pihak terkait sehingga mengancam bakal
hilangnya pulau ini dalam kurun waktu 100 tahun ke depan.
Pemerintah Kabupaten Bengkalis sudah berupaya menekan laju abrasi dengan
membangun pemecah gelombang dan penanaman hutan mangrove setiap tahunnya. Namun
mengingat anggaran yang dibutuhkan tidak sedikit, dukungan Pemerintah Provinsi
Riau dan Pemerintah Pusat tentu sangat diharapkan.
Menurut Bupati Bengkalis, H Herliyan Saleh, Pemkab sudah berupaya semaksimal
mungkin. Namun masalah ini bakal tidak teratasi jika hanya mengandalkan APBD
Bengkalis. ''Sejak tahun 60-an sudah terjadi abrasi, kita tidak bisa menangani
hal ini dengan kemampuan dana kita yang terbatas. Tentu butuh dukungan provinsi
dan pusat,'' harap Bupati, Selasa (17/2).
Bicara koordinasi, Herliyan mengungkapkan, terus melakukannya, baik dengan
Pemerintah Provinsi Riau maupun Pemerintah Pusat. ''Kita sudah minta Pemprov
dan Pusat untuk membantu kita, karena ini terjadi bukan hanya hari ini. Apalagi
ini kan wilayah republik, kita tidak mau juga pulau ini tergerus terus. Kita akan
buat dan mengatasi abrasi semampu kita, tetapi kita juga butuh dukungan
Provinsi dan Nasional,'' pungkas Bupati.
Seperti diberitakan sebelumnya, abrasi di Pulau Bengkalis makin
mengkhawatirkan. Jika tidak ditangani secara serius, 100 tahun ke depan pulau
Bengkalis hanya tinggal nama. Terbaru adalah amblasnya puluhan hektar kebun
sawit milik PT Meskom yang berhadapan dengan Selat Melaka. (Bku)