
Warga Tionghoa sembahyang di Kelenteng Hok Ann Kiong sempena perayaan Imlek, Bengkalis, Kamis (19/2).
Warga Tionghoa sembahyang di Kelenteng Hok Ann Kiong sempena
perayaan Imlek, Bengkalis, Kamis (19/2).
BENGKALIS,
Beritaklik.Com - Hujan yang turun menjelang pergantian
tahun baru Imlek tadi malam tidak menyurutkan keinginan warga Tionghoa untuk
merayakannya. Jelang pergantian tahun, suara kembang api terus bersahut-sahutan
walau tak seramai tahun lalu. Membuat suasana kota Bengkalis benar-benar
berbeda dari hari biasa.
Kesiapan warga Tionghoa untuk menyambut kedatangan tahu baru Imlek sudah
dimulai sejak Rabu (18/9) sore di mana sebagian besar toko-toko tutup lebih
awal. Kalau pada hari biasa toko buka hingga malam, tapi pada Rabu (18/9)
menjelang sore sudah banyak toko yang tutup. Tidak hanya toko-toko besar,
termasuk kedai-kedai dan kios milik warga Tionghoa sudah tutup menjelang sore.
Pada malamnya, sejak pukul 21.00 WIB suara kembang api mulai terdengar. Seiring
dengan itu, hujan yang tidak terlalu lebat mengguyur kota Bengkalis. Namun,
hujan ternyata tidak menyurutkan keinginan warga Tionghoa untuk memeriahkan
perayaan setahun sekali tersebut. Menjelang pergantian tahun suara kembang api
makin bersahut-sahutan. Pesta kembang api ini selain untuk lebih memeriahkan
suasana, juga memiliki makna tersendiri, yakni untuk mengusir roh jahat di
tahun yang baru.
Terpisah, di Kelenteng Hok Ann Kiong, sejak pukul 00.00 WIB warga Tionghoa
berdatangan untuk mengadakan acara sembahyang. Pantauan pada Kamis (19/2) siang
kemarin, warga Tionghoa baik tua maupun muda bahkan anak-anak secara tertib
memanjatkan doa kepada sang Dewa. Beberapa mereka ada yang membawa kertas
sembahyang maupun hio dari rumah, tapi ada juga yang membeli di kelenteng.
Ada beberapa dewa di kelenteng tersebut, namun dewa yang cukup sakeral adalah
Dewa Ching Cui Choo She. Tidak mengherankan, di ruang tengah tempat Dewa ini
berada dikerumuni banyak warga Tionghoa yang ingin bersembahyang. Baru kemudian
dilanjutkan dengan dewa-dewi lainnya yang berada di samping kanan dan kiri Dewa
Ching Cui Choo She. Ada Budha Sakyamuni, Kwan Yin Phu Sha, Chi Tian Ta Sheng,
di ruang sebelah kiri.
Kemudian Thai Siong Lo Kun, Ngo Ya, Diu Ong Yia, Kwek Siong Ong, dan Sam Tiong
Ong di ruang sebelah kanan. Tak lupa, mereka juga memanjatkan doa di altar,
tepat di pintu utama Kelenteng. Acara sembahyang ini diakhiri dengan membakar
kertas sembahyang di tempat yang telah disediakan, yaitu di kanan dan kiri
Kelenteng.
Humas Yayasan Hok Ann Kiong, Herman Kasuma mengatakan, puncak peringatan Imlek
akan dilaksanakan pada hari keenam Imlek yaitu acara ritual keliling Kota
Bengkalis melakukan penyemahan. Berbeda dengan tahun lalu, pada tahun ini rute
arak-arakan keliling kota Bengkalis diperluas. Kalau biasanya dari perempatan
Jalan Hang Tuah - Ahmad Yani arak-arakan langsung belok ke Hang Tuah.
Namun pada tahun ini lurus sampai ke pertigaan Jalan Ahmad Yani. Dari
sana belok kiri menuju perempatan Jalan Antara - Tandun dan lanjut hingga ke
Jalan Pattimura. "Penambahan rute ini sesuai dengan petunjuk sang Dewa, karena
kebetulan ada warga kita yang minta," kata pria pemilik nama Tionghoa Akun ini.
Dalam kesempatan itu, Herman menyampaikan ucapan selamat menyambut Hari Raya
Imlek bagi seluruh masyarakat Tionghoa. Doa dan harapan kepada seluruh umat
semoga, pada tahun baru ini diberikan kebahagiaan, kesuksesan, kemakmuran,
kesejahteraan, buat rakyat Indonesia terutama rakyat Bengkalis.
"Setelah pada tahun kuda semua saling berpacu, persaingan cukup keras, berbagai
persoalan timbul. Sekarang pada tahun kambing kayu yang lebih mendamaikan, maka
harapan-harapan kita tentu tahun ini diberikan kebahagiaan, kesuksesan,
kemakmuran, kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama Bengkalis,"
kata Herman Kasuma. (Bku)