
Kabid Perdagangan Dalam Negeri, Raja Arlingga (dua dari kanan) dan Kepala Bulog Bengkalis, M Yusuf berdialog pedagang ketika meninjau Pasar Terubuk, Bengkalis, Rabu (4/3).
Kabid
Perdagangan Dalam Negeri, Raja Arlingga (dua dari kanan) dan Kepala Bulog
Bengkalis, M Yusuf berdialog pedagang ketika meninjau Pasar Terubuk, Bengkalis,
Rabu (4/3).
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Dinas Perdagangan
dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Bengkalis bersama Bulog
Bengkalis melakukan inspeksi mendadak ke Pasar Terubuk Bengkalis dan agen,
Rabu (4/3).
Sidak dipimpin Kadisperindag Bengkalis diwakili Kabid Pedagangan Dalam Negeri,
Raja Arlingga bersama Kepala Bulog Bengkalis, M Yusuf. Menurut Raja
Arlingga, secara umum harga kebutuhan pokok masih stabil dan stok masih aman.
Kecuali beras memang mengalami kenaikan sekitar Rp50-Rp100/Kg. Kemudian Tomat
Rp2.000/kg dari sebelumnya Rp6.000/kg kini menjadi Rp8.000/kg.
Sementara untuk cabe cenderung turun. Seperti cabe merah Rp20.000/kg, cabe
hijau Rp18.000/kg dan cabe rawit juga Rp20.000/kg. Kenaikan harga beras saat
ini, menurut distributor sembako UD Laju, Akun, disebabkan terjadinya
pergeseran masa panen padi di Pulau Jawa.
''Kemungkinan harga beras akan naik lagi. Namun akhir Maret nanti diperkirakan
sudah normal kembali karena petani di Pulau Jawa sudah mulai panen padi,'' ujar
Akun. Untuk stok beras, tambah Akun, saat ini tidak ada persoalan dan dalam
waktu dekat akan kembali masuk dari Pulau Jawa. Hanya saja kemungkinan harganya
akan mengalami kenaikan sampai musim panen tiba.
Segera Salurkan Raskin
Sementara itu Kepala Bulog Bengkalis, M Yusuf
mengatakan, untuk menekan kenaikan harga pihaknya akan menyalurkan raskin
triwulan I ini sebanyak 400 ton. ''Mudah-mudahan dengan disalurkannya raskin
triwulan I ini, bisa menekan permintaan akan beras sehingga kenaikan harga juga
bisa diteken,'' ujarnya di sela-sela sidak.
Menyangkut operasi pasar, Yusuf mengatakan, baru bisa dilakuka kalau kenaikan
harga di pasaran sudah mencapai 20 persen.
''Pantauan kita saat ini kenaikan harga beras di pasaran baru sekitar 3 persen. Sehingga belum kita lakukan operasi pasar,'' ujarnya. (Bku)