MAKKAH, Beritaklik.Com - Saat terjadi musibah
robohnya crane di Masjidil Haram akibat badai pasir dan hujan, Sekretaris Kecamatan
(Sekcam) Bukit Batu, Mulyadi bersama sang isteri Mina Suryana duduk di tiang
pintu nomor 14 atau sekitar 30 meter dari lokasi jatuhnya crane.
Dituturkan
Mulyadi, sekitar pukul 18.00 Waktu Arab Saudi, menjelang salat Maghrib, dia
bersama isteri membaca Al Quran. Tiba-tiba badai debu bertebaran sangat kuat
dan kencang, sehingga dia memutuskan untuk mengakhiri membaca ayat suci Al Quran.
Tak berapa lama setelah menutup Al Quran, kemudian hujan sangat lebat mengguyur
Masjidil Haram, yang disertai badai debu kencang.
Ketika
badai pasir tiba, para jamaah yang berada di Masjidil Haram belum begitu panik,
karena sebelumnya sekitar pukul 16.00 WAS, sudah ada badai pasir, sehingga Mulyadi
dan jamaah lain menganggap kejadian itu seperti sebelumnya. Kepanikan muncul, ketika terdengar letusan
sangat kencang yang disertai batu-batuan besar berjatuhan.
"Waktu itu saya bersama isteri duduk mendengar
letusan sangat keras, saya pikir petir. Tak berapa lama batu-batu besar dari
tiang pintu 17 berjatuhan," ungkap Mulyadi, seperti diutarakan kepada Kasubbag
Peliputan dan Dokumentasi Bagian Humas Setda Bengkalis, Adi Sutrisno melalui
jaringan seluler, Sabtu (12/9/2015) sekitar pukul 11.45 WIB atau 07.00 WAS.
Posisi
tempat duduk Mulyadi di sekitar tiang pintu 14 yang jaraknya lebih kurang 30
meter dari crane yang jatuh. Saat batu berjatuhan dan mengenai JCH yang berada
di Masjidil Haram, jamaah yang ada panik dan histeris. Para jamaah berteriak keras
sambil menyebut Allahu Akbar berkali-kali dan jamaah yang berlarian berusaha
menyelamatkan diri.
Mulyadi
dan isteri berusaha untuk tidak panik, menyelamatkan diri dari
hantaman batu-batu yang berjatuhan. Mulyadi dan Mina Suryana langsung bergegas
menyelamatkan diri menuju lantai dua melewati bekas crane dan batu-batu yang berserakan
dan berjatuhan.
Setelah
sampai di pintu Babusalam, Mulyadi dan para jamaah tidak dibenarkan untuk
keluar, karena di luar badai dan hujan masih lebat. Ketika berada di pintu
Babusalam tepatnya tempat Sa'i, Mulyadi dan isteri beserta jamaah lain berlindung
di pilar-pilar tiang dan menyaksikan batu-batu besar terus berjatuhan, angin
masih kencang dan air hujan masuk ke dalam.
"Hampir
setengah jam berlindung di tiang-tiang di sekitar pintu Babusalam, badai dan
hujan mulai reda. Kami dibolehkan keluar dari Masjidil Haram. Waktu itu setahu
saya, jamaah yang berada ketika kejadian jamaah dari Rokan Hulu, Aceh dan Medan," ungkap Sekcam Bukit Batu. (Bku)