Plt Asisten III Setda Bengkalis, Hermanto membuka pelatihan EHRA, Kamis (1/10/2015).
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Sebanyak 66 tenaga medis dari Puskesmas
dan 50 petugas paramedic mengikuti pelatihan studi Enviromental Health Risk
Assessmen (EHRA). Kegiatan yang dibuka di lantai II Kantor Bupati Bengkalis
ini merupakan program percepatan pembangunan sanitasi dan pemukiman (PPSP) di
Kabupaten Bengkalis.
"Masalah sanitasi harus menjadi perhatian
serius. Sebab buruknya kondisi sanitasi berdampak pada aspek kehidupan dan
menurutnya kualitas hidup masyarakat," demikian diungkapkan Plt Asisten III Setda
Bengkalis, Hermanto saat membuka pelatihan EHRA, Kamis (1/10/2015).
Salah satu upaya memperbaiki kondisi
sanitasi melalui perencanaan pembangunan sanitasi yang responsif dan
berkelanjutan oleh Kelompok Kerja Sanitasi Kabupaten. Kehadiran Pokja sanitasi
ini nantinya akan menyusun buku putih sanitasi dan strategi sanitasi kabupaten.
"Untuk menghasilkan strategi sanitasi
kabupaten, maka perlu pemetaan situasi wilayah yang baik, sehingga dapat
diperoleh informasi lengkap, akurat dan mutakhir tentang kondisi sanitasi baik
menyangkut aspek teknis dan non teknis melalui study EHRA," ujar Hermanto.
Dikatakan Hermanto, study EHRA atau studi
penilaian resiko kesehatan lingkungan, merupakan kegiatan survei partisipasif
untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta prilaku masyarakat
pada skala rumah tangga. Meliputi sumber air minum, layakan pembuangan sampah,
jamban saluran pembuangan air limbah rumah tangga, serta prilaku buang air
bersih, praktek curi tangan pakai sabun.
Metode EHRA
mencakup kegiatan seperti pengumpulan data, sampling, dan analisis. Data dikumpulkan dengan cara wawancara dan pengamatan/observasi. Sedangkan respondennya adalah ibu (perempuan menikah atau janda) berusia antara 18-60 tahun. Waktu
survei study EHRA dilakukan selama lima hari, setiap desa sebanyak 40
responden.
Lebih lanjut Hermanto minta kepada
sanitarian Puskesmas sebagai supervisor dan Enumerator sebagai pelaksana
survei, diminta untuk bekerja serius selama di lapangan. Langkah ini penting,
agar hasil survei nantinya bisa dijadikan acuan dalam pembangunan, khususnya
pembangunan kesehatan dan lingkungan hidup. (Bku)