Plt Asisten III Setda Bengkalis Hermanto ikut makan obat ketika meninjau kegiatan POMP Filariasis, Kamis (1/10/2015).
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Penjabat Bupati
Bengkalis, Ahmad Syah Harrofie mengajak masyarakat untuk menyukseskan Pemberian Obat Massal Pencegahan
(POMP) Filariasis tahap
keempat. Langkah ini penting sebagai upaya untuk mencegah dan meminimalisir
penyakit kaki gajah di Kabupaten Bengkalis.
"Salah satu penyebab penyakit kaki gajah
atau filariasis adalah cacing dalam tubuh kita. Cara mencegahnya, dengan minum
obat anti cacing, Untuk itu, kami mengajak masyarakat untuk datang ke pos POMP
Filariasis agar diberi obat anti filariasis," ungkap Plt Asisten III Setda
Bengkalis Hermanto, mewakili Pj Bupati Bengkalis saat meninjau kegiatan POMP
Filariasis, Kamis (1/10/2015).
Untuk
melihat dari dekat kegiatan POMP Filariasis, mantan Kepala Kesehatan Bengkalis
ini meninjau tiga pos. Tempat pertama yang ditinjau, kantor Lurah Kota
Bengkalis, yang menjadi lokasi pemberian obat Filariasis, kemudian dilanjutkan
Pos POMP Filariasis di persimpangan Jalan Pendekik, Desa Pendekik dan terakhir
di Pos POMP Filariasis Desa Sebauk.
Saat mengunjung Pos
POMP Filiariasis di Kantor Lurah Kota Bengkalis, Hermanto didampingi Kabid Pengendalian
Masyarakat Lingkungan Irawadi dan Kasi P2P, Ediyanto menyempatkan diri minum
obat anti kaki gajah.
Kegiatan POMP
Filariaris tahun keempat tingkat Kabupaten Bengkalis dilaksanakan selama satu
bulan penuh di 522 pos POMP. Sedangkan jumlah kader yang melayani kegiatan POMP
Filariasis ini sebanyak 2.088 orang. Pada tahap keempat ini, Pemkab Bengkalis
menargetkan 85 persen dari jumlah penduduk kabupaten Bengkalis.
Bersama kegiatan
POMP Filariasis tahap pertama dimulai pada Februari 2013 dengan jumlah sasaran 80,1 persen. Tahap kedua November 2013 sebanyak 78
persen dan tahun ketiga 74 persen dari total jumlah penduduk Kabupaten
Bengkalis.
"Tingkat kesadaran
warga untuk menyukseskan POMP Filariasis ini sangat baik. Sebab berdasarkan
ketentuan Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia dan Badan Kesehatan Dunia WHO, menetapkan angka cakupan 65 persen dari total
penduduk," ungkap Hermanto.
Untuk mensukseskan kegiatan ini, Hermanto
minta kepada stekeholder untuk melibatkan pihak swasta, tokoh masyarakat, tokoh
agama, guru, PKK, kader dan organisasi kemasyarakatan lainnya. "Rangkul seluruh
elemen masyarakat dan pemerintahan, untuk gencar melakukan penyuluhan langsung,
sosialisasi di tempat-tempat umum, institusi pendidikan, rumah ibadah, tempat
kerja, Posyandu, media cetak dan lain-lainnya, agar seluruh sasaran mendapatkan
obat tanpa ada yang terlewati," ungkap Hermanto. (Bku)