Ilustrasi.
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Puncak siklus lima tahunan
penyebaran demam berdarah dengue diperkirakan terjadi pada 2015. Itu ditandai
dengan peningkatan jumlah kasus penyakit tersebut di sejumlah daerah.
Masyarakat pun diimbau waspada dan aktif mencegah perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti yang menularkan penyakit itu.
Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Bengkalis melalui Kepala Bidang Pengendali
Masalah Kesehatan Lingkungan, Irawadi SKM, Selasa
(29/9) mengatakan, siklus lima tahunan ini merupakan hasil pengamatan data
jumlah kasus DBD dalam kurun waktu tertentu. Dari pengamatan data itu muncul
sebuah pola DBD yang menunjukkan grafik naik atau turun. Berdasarkan pengamatan
tersebut, ada suatu masa yang menunjukkan pola jumlah kasus DBD yang lebih
tinggi dibanding waktu-waktu lainnya, yang biasanya muncul setiap lima tahun.
Inilah yang kemudian disebut dengan siklus lima tahunan DBD.
Kalau memang itu
terjadi maka ada kekhuatiran kasus DBD di Kabupaten Bengkalis akan meningkat
drastis bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk diketahui, pada tahun
2014 lalu, ada 591 kasus DBD dengan kematian sebanyak 7 orang yaitu Kecamatan
Bengkalis 4 orang kasus kematian, Kecamatan Mandau (Duri) 2 orang dan kecamatan
Bukit Batu 1 orang. Tahun 2014, kasus DBD terjadi di 7 kecamatan dari 8
kecamatan. Satu-satunya yang tidak ada kasus DBD adalah kecamatan Rupat.
Irawadi mengatakan, sejauh ini belum diketahui penyebab
pasti mengapa setiap lima tahun sekali kasus DBD meningkat drastis. Namun, dari
sejumlah literatur, sikIus lima tahunan DBD
disebabkan oleh sirkulasi virus dengue yang terdiri dari empat stereotip. Jika
ada satu stereotip virus dengue yang dalam beberapa periode tidak muncul, maka
ketika dia akhirnya menginfeksi manusia, diperkirakan jumlah korbannya akan
banyak.Pasalnya, orang yang sudah pernah
terkena virus dengue stereotip lain pun rawan untuk terinfeksi kembali oleh
virus dengan stereotip berbeda.
Terlebih dengan kondisi asap
saat ini dimana akibat dari suplai oksigen yang kurang menyebabkan daya tubuh,
terutama anak-anak menurun. Hal itu akan menyebabkan virus DBD mudah menyerang.
Hingga bulan September ini saja telah terjadi 22 kasus DBD dan semuanya
anak-anak.
Menurut Irawadi, peningkatan kasus DBD di Bengkalis ini
membuat Diskes Kabupaten Bengkalis terus melakukan fogging di area
terdampak. "Setiap hari kita fogging, tiada hari tanpa fogging," katanya
seraya menambahkan, selain fogging, pihaknya juga gencar melakukan penyuluhan
terkait DBD, khususnya di desa-desa yang muncul kasus DBD serta desa-desa
berdekatan.
Pola hidup bersih
menurut Irawadi sangat penting untuk mencegah munculnya DBD. Kemudian, sesegera
mungkin membawa anak-anak yang mengalami demam panas ke Puskesmas atau RSUD
agar tidak terlambat ditangani oleh petugas kesehatan kalau hasil diagnosa
ternyata demam DBD. (Bku)