Kajian Ekonomi Regional Provinsi Riau

Selasa, 08 Desember 2015

PEKANBARU, Beritaklik.Com - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau MerilisPerekonomian Riau hingga semester I-2015 masih mengalami kontraksi , yaitu sebesar 1,37% . Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2015 tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,64% , lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2015 lalu yang tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,03% . Kondisi ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat tumbuh melambat dibandingkan triwulan I-2015 yaitu dari 4,71% menjadi 4,67%.

Sumber penurunan ekonomi Riau pada triwulan II-2015 utamanya bersumber dari penurunan kinerja sektor pertambangan dan sektor penggalian dan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Sementara sektor perdagangan besar dan eceran dan reparasi mobil dan sepeda motor tercatat melambat. Di sisi lain, sektor industri pengolahan dan sektor kontruksi tercatat mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Dari sisi penggunaan, penurunan kinerja ekonomi utamanya disebabkan oleh masih menurunnya ekspor dan perlambatan investasi. Kontraksi sektor pertambangan dan penggalian yang berkelanjutan diperkirakan berdampak terhadap penurunan ekspor migas Provinsi Riau pada triwulan laporan, sementara ekspor non migas cenderung membaik dibandingkan triwulan sebelumnya.

Perkembangan inflasi Provinsi Riau pada triwulan II 2015 berada pada level lebih sesuai dengan perkiraan sebelumnya, yaitu mencapai 7,39%. Tekanan inflasi Riau pada triwulan II 2015 mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan tekanan inflasi bersumber dari kelompok administered price akibat peningkatan harga BBM bersubsidi yang terjadi pada akhir Maret 2015 yang lalu dan peningkatan kelompok volatile food akibat peningkatan harga bumbu-bumbuan (bawang merah dan cabai merah), daging ayam ras dan telur ayam ras. Bila dilihat dari kota yang disurvei di Provinsi Riau, inflasi tertinggi masih terjadi di Kota Pekanbaru yaitu mencapai 7,53% , diikuti oleh Kota Dumai dan Kota Tembilahan masing-masing-masing 7,29% dan 6,23% . Sementara itu, kinerja perbankan di Provinsi Riau pada triwulan laporan tercatat mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya, dimana perlambatan terjadi pada asset, dana dan kredit.

Perkembangan ekonomi Riau pada triwulan III-2015 secara umum diperkirakan masih mengalami kontraksi namun relatif membaik dibandingkan triwulan II-2015. Pertumbuhan ekonomi Riau secara tahunan diperkirakan berada pada kisaran (-1,5-(-0,5)% ). Sumber pertumbuhan dari sisi penggunaan diperkirakan masih berasal dari konsumsi domestik, sementara perbaikan kinerja sektor utama diperkirakan akan mendorong pertumbuhan perekonomian Riau pada triwulan III-2015. Inflasi Riau pada triwulan mendatang diperkirakan akan cenderung menurun, yaitu berada pada kisaran 6,3-6,8%.

Sedangkan secara triwulanan, inflasi diperkirakan berkisar 1,3-1,8% (qtq). Inflasi Riau pada triwulan III 2015 diperkirakan masih akan berasal dari inflasi administered price dan inflasi volatile food. Inflasi kelompok administered price utamanya diperkirakan masih berasal dari faktor baseline kenaikan BBM pada tahun 2014. Selanjutnya, peningkatan inflasi volatile food diperkirakan bersumber dari kenaikan harga bahan makanan akibat permasalahan pasokan. Beberapa komoditas seperti beras, daging sapi, dan cabe merah mulai menunjukkan peningkatan sehingga berpotensi mendorong peningkatan inflasi kelompok volatile food di triwulan mendatang. (Adv)