Plt Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rahman bersama Bupati Bengkalis, Amril Mukminin dan kepala desa.
PEKANBARU, Beritaklik.Com - Sebagai garda terdepan dalam pemerintahan
dan pelayanan publik, kepala desa (kades) dituntut untuk lebih peka terhadap
lingkunganya, terutama untuk mengantisipasi masalah kebakaran lahan dan hutan.
Demikian disampaikan Plt Gubernur Riau,
Arsyadjuliandi Rahman saat membuka kegiatan peningkatan kapasitas aparatur
pemerintah desa se-Provinsi Riau, di Hotel Mutiara Merdeka, Selasa malam
(1/3/2016). Selain dihadiri 1040 Kades, se-Riau, turut hadir pada acara
tersebut, Bupati Bengkalis Amril Mukminin dan sejumlah kepala daerah lainnya.
Pada pertemuan dengan Kades se-Provinsi, Gubri menekankan
agar kepala desa tanggap terhadap penanggulangan kebakaran lahan dan hutan.
Terkait dengan masalah ini, Bupati Bengkalis Amril Mukminin mengatakan, bahwa
sejauh ini di Kabupaten Bengkalis mulai dari masyarakat, pemerintah desa, kecamatan
dan pihak kabupaten telah siaga dalam menghadapi kebakaran lahan dan hutan. "Saat ini, masyarakat dan petugas tetap siapa menanggulangi karlahut," tandas
Amril.
Selaras dengan intruksi Presiden agar daerah memperhatikan
masalah kebakaran lahan dan hutan. Bahkan presiden mengancam untuk jajaran
polisi dan TNI untuk melakukan pemecatan yang gagal menangani masalah kebakaran
lahan dan hutan. Gubernur Riau, tidak menginginkan hal itu terjadi, karena
penanggulanan masalah kebakaran lahan dan hutan menjadi tanggungjawab bersama,
tidak hanya konsekwensinya terhadap Polri dan TNI. Kades sebagai ujung tombak
dan garda terdepan yang berdampingan masalah lahan, dituntut untuk tanggap dan
peka.
Untuk melakukan penanggulangan dan pencegahan kebakaran
lahan dan hutan, Amril mengintruksikan kepada Kepala Desa untuk tetap siaga
melakukan antisipasi, terutama di wilayahnya terdapat kawasan perkebunan baik
itu milik masyarakat maupun perusahaan. Desa juga didorong untuk mengaktifkan
gotong royong cegah karlahut, seperti yang dicanangkan oleh jajaran Polri.
"Penanggulangan masalah kebakaran lahan dan hutan ini,
harus melibatkan seluruh elemen, baik itu masyarakat, pemerintah, aparat
Polri/TNI, pihak swasta bahkan LSM. Kita harus gencar melakukan sosialisasi,
sehingga masyarakat tidak berani untuk membakar lahan dan hutan," ungkapnya.
Pada tahun 2015, Provinsi Riau mampu
menekan titik api. Namun masih merasakan dampak kabut asap kiriman dari
provinsi lain, sehingga mengakibatkan lumpuhnya segala sektor, seperti
pendidikan, kesehatan, ekonomi, transportasi, dan pertanian. (Bku)