Abrasi di Desa Teluk Papal, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, mengancam pemukiman warga, Minggu (6/3/2016).
BENGKALIS, Beritaklik.Com - Musim utara seperti sekarang
ini, semakin memicu cepatnya abrasi di Kecamatan Bantan, khususnya di Desa
Teluk Papal. Pantauan di lapangan, laju abrasi yang terjadi di Desa Teluk Papal,
Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, sudah
sangat mengkhawatirkan, bahkan sudah mengancaman pemukiman masyarakat yang
tinggal di pesisir pantai.
Seperti disampaikan Ponimen (40), salah seorang masyarakat pesisir yang juga
Ketua Kelompok Konservasi Lingkungan Pesisir Desa Teluk Papal, sepanjang musim Utara
ini, terjangan ombak dari Selat Malaka sangat kuat sehingga menyebabkan terjadinya
pengikisan bibir pantai yang cukup signifikan bahkan sudah merambah ke kebun
masyarakat.
"Abrasi menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat yang
tinggal wilayah pesisir, apalgi yang berhadapan langsung dengan Selat
Malaka yang terkenal gelombang pasang laut cukup besar. Dampaknya adalah kebun,
lahan pertanian bahkan rumah warga sudah adanya menjadi sasaran dan amblas ke
laut," terang Ponimen, Minggu (6/3/2016).
Ditegaskan Ponimen, abrasi merupakan persoalan serius yang harus diatasi
secepatnya. Jika tidak, lambat laun, tidak tutup kemungkinan Kampung
Papal hanya tinggal nama saja dan menjadi lautan. Demikian juga daerah lainnya
yang ada di Pulau Bengkalis ini, kondisinya akan sama seperti Teluk Papal.
Ditambahkan Ponimen, Kelompok Konservasi Lingkungan Pesisir Desa Teluk
Papal yang dipimpinnya, sudah berusaha melukakan penyemaian bibit mangrove untuk ditanam setelah musim
utara nanti dengan harapan bisa meminimalisir abrasi di daerah ini.
"Hanya saja proses penyemaian mengalami sedikit hambatan karena cuaca
yang sangat panas sehingga bibit yang disemai ada yang mengalami kematian, meskipun
sudah dilakukan peyiraman, " terang Ponimen.
Pihaknya juga mengapresiasi program Dinas Perikanan dan Kelauatan Kabupaten
Bengkalis dan Dinas PU Bengkalis yang telah sama-sama berupaya menanggulangi
abrasi di daerah ini. "Meskipun metode berbeda, tapi tujuannya sama, yakni
memenanggulangi abrasi. Mudah-mudahan kegiatan ini dapat berlanjut dan
bersinergi ke depannya," tutup Ponimen. (Bku)