Nasib Petani Karet Makin Terpuruk, Pemkab Bengkalis Diharap Ikut Carikan Solusi

Rabu, 30 Maret 2016

BENGKALIS-Para petani karet masih saja dipusingkan rendahnya harga jual karet di pasaran sejak dua tahun terakhir ini. Sebagian petani karet memilih mencari pekerjaan yang lain dan membiarkan kebun mereka begitu saja.

Tidak semua petani  karet memang, sebagian masih setia menyambangi
satu persatu batang karet, kendati dihadapkan kondisi harga yang
sangat rendah ditambah musim panas yang menyebabkan getah tidak
sebanyak hari-hari biasa. “Mau tak mau, walau harga sangat
rendah. 3 kg ojol (karet) baru bisa beli 1 kg beras,” ujar Nurhadi warga
Jangkang, Rabu (30/3).

Sebagian petani karet ada yang terpaksa menyabung nasib ke
neger jiran Malaysia. Sebenarnya di Malaysia-pun tidak seperti dulu,
mudah mencari pekerjaan, bayaran juga memuaskan. Beberapa tahun
terakhir mencari pekerjaan di Malaysia hampir sama sulitnya di kampung
halaman, saking ramainya pekerja yang membutuhkan pekerjaan.

“Sekarang ini tidak hanya petani karet yang sulit, pekerjaan yang
lain seperti nelayan juga dihadapkan pada ombak besar. Sedangkan
buruh-buruh bangunan juga tergantung ada tidaknya proyek, berjalan
atau belum. Pemerintah dituntut bijak menyikapi persoalan ini,” imbuh
Nurhadi.

Masih menurut Nurhadi, pada tahun 2015 lalu saat Bupati masih
dijabat, H Herliyan Saleh, sempat muncul rencana pembelian karet
masyarakat oleh Pemerintah Daerah melalui koperasi atau BUMD yang ada.
Sayang, program tersebut tidak terealisasi kendati masyarakat petani
sangat berharap  kegiatan tersebut terwujud.

“Rencana pembelian karet masyarakat melalui koperasi itu saya nilai
sangat tepat disaat harga ojol jeblok seperti ini, entah semacam
subsidi silang atau apalah namanya. Ya paling tidak 1 kg ojol bisa
dihargai 1 kg beras itu sudah lumayan. Soal teknisnya seperti apa
pemerintah lebih tahu, yang pasti kalau rencana ini terealisasi sangat
membantu petani,” jelas Nurhadi.

Masih soal jebloknya jarga ojol serta persoalan eknomi yang semakin
sulit, Nurhadi berharap ada langkah-langka kongkrit yang dilakukan
oleh Pemerintah Daerah bersama DPRD Bengkalis.

“Kalau memang tidak memungkinkan untuk merealisasikan program
pembelian karet masyarakat, mohon dicarikan solusi lain untuk
mengatasi persoalan ini. Masyarakat benar-benar dihadapkan pada
kondisi sulit terlebih para petani karet,” sebut Nurhadi lagi.***