
BENGKALIS-Persoalan yang melanda masyarakat Rupat
seperti tiada habisnya. Beberapa hari lalu, viral di media sosial tentang
jalan-jalan di Desa Pulau Rupat yang mengalami kerusakan parah, persis kubangan
kerbau, kini masyarakat kembali dipusingkan tidak beroperasinya Roro Tanjung
Kapal (Rupat) – Dumai.
Â
Penghentian
operasi Roro yang sejak beberapa minggu terakhir hanya dilayani 1 kapal
tersebut mulai Kamis (3/8) sampai batas waktu yang tidak disebutkan. Masyarakat
hanya membaca pengumuman pemberitahuan yang ditempel di dinding.
Â
Dalam
pengumuman tersebut dijelaskan, penghentian pengoperasionalan kapal roro
disebabkan sertifikat kapal yang dikeluarkan oleh Biro Klasifikasi Indonesia
(BKI) sudah habis masa berlakunya dan masih dalam proses pengurusan.
Â
 “Tak jelas siapa atau institusi mana yang
mengeluarkan pengumuman, karena tanpa ada keterangan. Lagi-lagi kami masyarakat
Rupat yang menjadi korban, kemarin jalan kami yang rusak, sekarang roro pula
terhenti,†keluh Kaharuddin, Kamis (3/8/2018).
Â
Pengumuman
tersebut hanya menjelaskan sertifikasi yang habis masa berlaku sedang dalam
pengurusan, tidak disebutkan dengan jelas sampai kapan penghentian kapal roro
ini atau kapan selesai pengurusannya,â€Kami benar-benar dibuat bingung dan
susah. Sehari-hari kami harus bolak balik Dumai-Rupat, kalau kapal roro tak
beroperasi, peraktis aktivitas kami terhambat,†keluh warga Rupat yang tinggal
di Dumai ini.
Â
Para
petani sawit menjadi “korban†paling dirugikan, sebagian besar hasil perkebunan
(sawit dan lainnya) biasanya mereka jual  ke Dumai,â€Mestinya kondisi seperti ini
tidak terjadi, karena transportasi roro merupakan urat nadi perekonomiam
masyarakat pulau Rupat. Kalau dah kapal roro tak beroperasi mau pakai apa
mereka bawa sawit ke Dumai,†ungkap Izan Jamil warga Rupat lainnya.
Â
Memang
kata Izan, masih ada alternatif lain, yakni menggunakan kapal laut (pompong).
Akan tetapi biaya transfortasi akan menjadi sangat besar, sehingga harga jual
di tingkat petani akan jeblok,â€Sementara sekarang ini harga TBS sedang turun.
Mohonlah para pengambil kebijakan untuk sesegera mungkin mengatasi persoalan
ini,†harapnya.
Â
Terpisah
praktisi pendidikan Bengkalis, Alfansuri, menghimbau pihak terkait untuk segera
melakukan koordinasi dengan Disbub Provinsi Riau sebagai pihak pengelola
penyeberangan Dumai-Rupat juga kepada pihak ASDP.
          Â
“Saran
saya, solusi jangka pendek segera koordinasi dengam Dishub provinsi, agar
kondisi ini segera pulih kembali. Solusi jangka menengahnya pindah pengelolaan
dari Dishub Provinsi ke Dishub Kabupaten/Kota. Dan solusi jangka panjang,  Otorita Rupat adalah keniscayaan,†sarannya.***