Harga Karet Anjlok, Petani Karet Menjerit

Sabtu, 08 Juni 2013

BENGKALIS.Para petani karet di Pulau Bengkalis kembali mengeluhkan anjloknya harga komoditi ini di pasaran. Jika dua bulan lalu harga di tingkat petani berkisar Rp7.000/kg, sekarang hanya tinggal Rp6.000/kg atau anjlok Rp1.000/kg. Penderitaan mereka semakin parah menyusul melambungnya harga kebutuhan pokok terkait kebijakan pemerintah biakal menaikkan harga bahan bakar minyak dalam waktu dekat ini.
"Mau makan apa kami ini, kalau harga karet seperti sekarang. Sementara harga kebutuhan sehari-hari terus melonjak, sangat tidak sebanding dengan harga karet saat ini. Satu kilogram hasil karet tidak dapat lagi membeli satu  kilogram beras," keluh Hendri, salah seorang petani karet di Dusun Papal, Bantan.
Keluhan Hendri ini sangat wajar. Apalagi sebagai tulang punggung harga ia harus menafkahi empat orang anak, cukup berat dengan kondisi harga karet yang turun saaat ini. "Kalau pegawai mungkin tak terlalu terasa naiknya harga kebutuhan saat ini, tapi bagi kami petani ini, turunnya harga karet cukup membuat kami pusing untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari . Eh tak tahunya harga kebutuhan barang malah naik pula,"ungkap Badariah.
Keluhan senada disampaikan Tina. Menurut janda satu anak ini, penghasilan torehannya tidak sebanding lagi dengan harga sejumlah kebutuhan pokok atau dengan kata lain utangnya di kedai  tidak bisa lagi tertutupi dengan penghasilan dari menoreh getah saat ini.

“Biasanya, walau tidak dapat berlebih masih bisa menutupi utang kebutuhan pokok di kedai. Dengan makin anjloknya harga karet, sementara harga kebutuhan terus melambung, penghasilan yang ada  tak lagi dapat menutupi utang belanja dapur di kedai,” keluhnya.
Diakuinya Tina, ia biasa mengambil kebuthan sehari-hari di kedai yang nantinya akan dibayar ketika menjual karet. Selama ini walau tak berlebih, tapi setidaknya utang di kedai masih dapat tertutupi. Namun sejak harga kebutuhan melambung, penghasilan dari menoreh karetnya minus.

“Macam tak berarti lagi hasil penjualan karet saat ini, tak sebandingkan dengan harga kebutuhan pokok yang terus melambung," ujar Tina dengan nada lirih.(bku)