
BENGKALIS.Para petani karet di Pulau Bengkalis kembali
mengeluhkan anjloknya harga komoditi ini di pasaran. Jika dua bulan lalu harga
di tingkat petani berkisar Rp7.000/kg, sekarang hanya tinggal Rp6.000/kg atau
anjlok Rp1.000/kg. Penderitaan mereka semakin parah menyusul melambungnya harga
kebutuhan pokok terkait kebijakan pemerintah biakal menaikkan harga bahan bakar
minyak dalam waktu dekat ini.
"Mau makan apa kami ini, kalau harga karet seperti sekarang. Sementara
harga kebutuhan sehari-hari terus melonjak, sangat tidak sebanding dengan harga
karet saat ini. Satu kilogram hasil karet tidak dapat lagi membeli satu kilogram
beras," keluh Hendri, salah seorang petani karet di Dusun Papal, Bantan.
Keluhan Hendri ini sangat wajar. Apalagi sebagai tulang punggung harga ia harus
menafkahi empat orang anak, cukup berat dengan kondisi harga karet yang turun
saaat ini. "Kalau pegawai mungkin tak terlalu terasa naiknya harga
kebutuhan saat ini, tapi bagi kami petani ini, turunnya harga karet cukup
membuat kami pusing untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari . Eh tak tahunya
harga kebutuhan barang malah naik pula,"ungkap Badariah.
Keluhan senada disampaikan Tina. Menurut janda satu anak ini, penghasilan
torehannya tidak sebanding lagi dengan harga sejumlah kebutuhan pokok atau
dengan kata lain utangnya di kedai tidak bisa lagi tertutupi dengan
penghasilan dari menoreh getah saat ini.
“Biasanya, walau tidak dapat berlebih masih bisa menutupi
utang kebutuhan pokok di kedai. Dengan makin anjloknya harga karet, sementara
harga kebutuhan terus melambung, penghasilan yang ada tak lagi dapat
menutupi utang belanja dapur di kedai,” keluhnya.
Diakuinya Tina, ia biasa mengambil kebuthan sehari-hari di kedai yang nantinya
akan dibayar ketika menjual karet. Selama ini walau tak berlebih, tapi
setidaknya utang di kedai masih dapat tertutupi. Namun sejak harga kebutuhan
melambung, penghasilan dari menoreh karetnya minus.
“Macam tak berarti lagi hasil penjualan karet saat ini, tak sebandingkan dengan harga kebutuhan pokok yang terus melambung," ujar Tina dengan nada lirih.(bku)