
BENGKALIS - Jelang pelaksanaan Ekraforia Tahun 2026 pertengahan Agustus ini, berbagai penguatan dilakukan Bengkalis Creative Network (BCN) bersama Disparbudpora sesuai arahan Bupati Bengkalis dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat serta ekonomi kreatif di Kabupaten Bengkalis. Salah satunya, melakukan pertemuan strategis dengan Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM).
Pertemuan itu berlangsung di dua lokasi berbeda, di Jakarta, Selasa (4/8/2026). Bersama ICCN berlangsung di LPP TVRI. Ketua Umum ICCN sekaligus Direktur Utama LPP TVRI dan Komisaris BUMN In Journey Fiki Satari dan Sekretaris Eksekutif ICCN Mario Devys langsung ambil andil pertemuan bersama pelaksana tugas Kepala Disparbudpora dan Ketua BCN Riza Zuhelmy, Bendahara BCN Dendy Ariandi, serta Project Manager Ekraforia Berry Arneldi.
Kemudian di hari yang sama, squad Bengkalis ini bertandang ke Kantor Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat. Di sana, rombongan ini disambut Deputi bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Leontinus Alpha Edison dan jajaran.
Dua pertemuan strategis ini bertujuan, membangun kolaborasi penyelenggaraan Ekraforia 2026, sekaligus memperkuat langkah Bengkalis menuju kabupaten kreatif berbasis potensi lokal.
Kolaborasi ini menjadi langkah awal dalam membangun sinergi antara pemerintah, komunitas kreatif, jejaring nasional, dan pemerintah pusat agar pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Bengkalis berjalan secara terarah, berkelanjutan, dan berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Ketua Umum ICCN, Fiki Satari, mengungkap kekuatan utama pembangunan kota kreatif terletak pada komunitas yang mampu menjaga kesinambungan gerakan kreatif di tengah dinamika pergantian pemerintahan.
"Makanya sebetulnya forum lintas komunitas kreatif itu menjadi nomor satu, karena ini nanti yang mengawal social society-nya, si masyarakat Madaninya. Pemerintah boleh berganti, tapi ketika komunitasnya masih terus kompak, sepakat, dan semangat, akhirnya juga dia bisa pertama mengkonsolidasikan aktivitas warganya,"ucap Fiki.
Fiki menegaskan, ICCN siap mendampingi Kabupaten Bengkalis dalam proses menuju kota kreatif. Tahapan awal yang diperlukan adalah melakukan scanning terhadap DNA kota, potensi wilayah, serta ekosistem lokal sebagai dasar penyusunan strategi pembangunan ekonomi kreatif yang tepat.
ICCN juga menyatakan kesiapannya memberikan pendampingan mulai dari pemetaan potensi, navigasi kebijakan, penguatan kapasitas, hingga membuka akses komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan di tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Fiki, inisiatif Ekraforia yang digagas oleh Bengkalis Creative Network bersama Pemerintah Kabupaten Bengkalis merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif.
Ia juga mengapresiasi gagasan pemanfaatan bekas Penjara Belanda di Bengkalis sebagai lokasi penyelenggaraan Ekraforia.
"Inisiatif Ekraforia yang digagas oleh Bengkalis Creative Network dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkalis bisa membangun keharmonisan ekosistem ekonomi kreatif yang lebih inklusif dan kolaboratif. Inisiatif pemanfaatan dan reaktivasi bangunan bekas penjara Belanda di Bengkalis sebagai lokasi pelaksanaan event Ekraforia bisa mendorong bangunan sejarah menjadi ruang kolaborasi, kreasi dan ekonomi di daerah,"cakapnya lagi.
Sementara itu, Leontinus Alpha Edison, Deputi bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran mengapresiasi kehadiran Pemkab Bengkalis dan BCN di Kemenko PM. Ia mengaku senang menerima kunjungan dan undangan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bengkalis untuk hadir pada Ekraforia ke-II pada 14-16 Agustus 2026.
"Yang langsung menarik perhatian saya, acaranya diselenggarakan di bekas penjara Belanda yang kini direvitalisasi menjadi ruang ekraf yang hidup. Itu bukan sekadar pilihan venue yang unik, itu adalah pernyataan bahwa aset idle pemerintah daerah punya potensi besar untuk menjadi pusat ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Leon, menawarkan konsep Perintis Berdaya Connect untuk diimplementasikan di Kabupaten Bengkalis. Karena Ekraforia bukan hanya soal pameran dan pertunjukan, tapi bisa menjadi momentum yang lebih besar: mempertemukan pelaku ekraf, UMKM lokal, mentor, dan akses pembiayaan dalam satu ekosistem yang terstruktur.
"Inilah yang selalu saya tekankan, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, dari level provinsi hingga kabupaten dan kota, adalah kunci agar program pemberdayaan benar-benar mengakar dan berdampak nyata di lapangan,"ungkap Leontinus.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disparbudpora, Ardiansyah, menjelaskan bahwa kunjungan ke ICCN dan Kemenko PM merupakan bagian dari langkah strategis Pemerintah Kabupaten Bengkalis untuk memperkuat pembangunan ekonomi kreatif daerah melalui kolaborasi nasional seperti selalu diarahkan dan ditekankan Bupati Bengkalis Kasmarni kepada jajaran.
"Hari ini kami melakukan kunjungan ke ICCN dan langsung bertemu dengan Ketua Umum ICCN dalam rangka melakukan konsultasi serta pendampingan kegiatan kota kreatif yang ingin kita lakukan di Kabupaten Bengkalis. Tujuannya, tentu untuk mendongkrak perekonomian Kabupaten Bengkalis dari segi inovasi kota kreatifnya,"terang Ardiansyah.
Ardiansyah menuturkan, kota kreatif dan Ekraforia merupakan wadah menggabungkan seluruh pemuda-pemuda kreatif yang ada di Bengkalis.
"Sehingga ini bisa menjadi moto Bengkalis nanti dari segi industri kreatif ataupun ekonomi kreatif guna Bengkalis akan lebih baik ke depannya," imbuhnya.
Kemudian, selain bertemu ICCN pihaknya melakukan kunjungan ke Kemenko PM. Itu dalam rangka menyelaraskan kegiatan dari pemerintah pusat sampai ke kabupaten. Dalam pertemuan banyak diskusi dilakukan untuk mensinergikan program dari pusat agar sampai ke kabupaten guna membantu UMKM yang ada di Kabupaten Bengkalis.
"Bagaimana UMKM ini bisa tumbuh, bisa mandiri, dan bisa profesional. Nantinya akan ada program-program pembimbingan serta upaya mencarikan supplier yang bisa berkolaborasi dengan UMKM yang ada di Bengkalis. Pemkab Bengkalis membuka peluang agar UMKM yang ada di Kabupaten Bengkalis bisa tumbuh dan berkembang, mungkin nanti bisa sampai ke tingkat provinsi, bahkan mampu berkompetisi pada tingkat nasional maupun global," tutur Ardiansyah.
Ketua Bengkalis Creative Network, Riza Zuhelmy, menyatakan, kolaborasi dengan ICCN dan Kemenko PM merupakan momentum penting dalam membangun fondasi ekosistem ekonomi kreatif Bengkalis.
"Ekraforia bukan sekadar sebuah festival, tetapi gerakan bersama untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Kami percaya, kolaborasi antara komunitas, pemerintah daerah, pemerintah pusat, akademisi, pelaku usaha, dan jejaring nasional akan menjadi fondasi kuat dalam mendorong Bengkalis sebagai kabupaten kreatif," tegasnya.
Dukungan ICCN dan Kemenko Pemberdayaan Masyarakat menurut Riza, menjadi energi baru bagi Bengkalis untuk menghadirkan ruang kolaborasi, meningkatkan kapasitas pelaku kreatif, membuka akses jejaring, investasi, serta menjadikan Ekraforia sebagai etalase potensi kreatif Bengkalis di tingkat nasional.
"Harapan kami, semoga momentum penting bagi Kabupaten Bengkalis untuk memperkuat identitasnya sebagai daerah kreatif mampu mengintegrasikan potensi budaya, sejarah, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat ke dalam satu ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,"pungkasnya.
Diketahui, penyelenggaraan Ekraforia Tahun 2026 digelar 14-16 Agustus mendatang. Lokasinya, di Jail Huis Van Bewaring atau akrab disebut Penjara Belanda di Jalan Pahlawan Kelurahan Bengkalis Kota, Kecamatan Bengkalis.
Berbagai kegiatan mewarnai kegiatan besar tersebut diantaranya, creative gallery, maker space, creative stage, local market, creative connet dan Ekrafo Run.