Kakak Beradik Tewas Disambar Lampu Teplok, Diduga Akibat Beredarnya Minyak Tanah Oplosan
Dugaan adanya minyak tanah oplosan itu disampaikan tokoh masyaraat Bengkalis, Abu Samah, Jum'at (3/10). Mantan Ketua Solidaritas Nelayan Kecamatan Bantan (SNKB) tersebut, mengaku cukup heran, dalam kurun waktu sebukan terakhir sudah empat kali kejadian serupa. Ada lampu teplok meledak dan api menyambar minyak tanah.
Pertama, kata Abu, terjadi di pesantren. Kedua di Sebauk, setelah itu di Desa Temeran dan terakhir Penampi. Sepertinya kata Abu, ada yang tidak beres dari minyak tanah yang beredar atau dijual di kedai-kedai. Bisa jadi, disebabkan minyak tanah mahal, lalu dicampu dengan minyak bensin demi meraup keuntungan.
"Berpuluh tahun kami menggunakan lampu pelito (teplok) minyak tanah ini, baru sekarang saja kami bisa menikmati PLN. Selama kami menggunakan pelito tak pernah kejadian meledak atau menyambar seperti itu. Ini kan aneh, minya tanah bukan seperti minyak bensin, kalau asli minyak tanah ta mungkin menyambar api," ujar Abu.
Sayangnya kata Abu, sudah berkali-kali kejadian akibat lampu pelito meledak atau menyambar tapi tidak ada upaya dari pemerintah atau institusi manapun di Bengkalis yang cuba mencari tahu atau menyelidiki kasus tersebut.
Masih kata Abu, saat dirinya bertanya dengan ibu korban di desa Penampi usai kejadian Rabu lalu, ibu korban menceritakan bahwa dirinya sengaja membeli minyaj tanah mengantisipasi kalau-kalau saat malam lampu (PLN) mati.
Saat si ibu mengisi dan menyalakan pelito pertama, tidak ada kejadian apapun, lampu hidup normal. Tapi saat si ibu mengisi minyak pelito kedua, tiba-tiba api dari pelito pertama menyambar minyak pelito kedua, saat bersamaan kedua anaknya berhampiran dengan lampu tersebut.
"Saya yakin ada permainan pihak-pihak tertentu untuk mencari keuntungan, sengaja mencampu minyak tanah dengan bensin (oplos), karena harga minyak tanah lebih mahal dari bensin. Mohon ini diselidiki," pinta Abu Samah.
Persoalan lain yang harus menjadi perhatian pemerintah, terkait pemadaman PLN yang semakin tidak beraturan ata tidak sesuai dengan jadwal pemadaman. Satu hari kata Abu bisa berkali-kali mati. Kondisi tersebut juga menyebabkan terjadinya kebakaran, karena warga yang tidak memiliki genset mereka menggunaan lampu teplok atau lilin.
Karena luka bakar yang dialami Rosmalisa (8) dan Siti Nurbaya cukup parah, pihak RSUD Bengkalis akhirnya merujuk kakak beradik tersebut ke Pekanbaru. Nasib berkata lain, saat masih di perjalanan si kakak, Rosmalisa menghembuskan napasnya yang terakhir.
"Kakanya meninggal karena luka bakarnya cukup parah. Ayahnya yang berencana menemani kedua anaknya ke Pekanbaru, terpaksa kembali ke Penampi membawa jenazah Rosmalisa, sedangkan sang ibu terus ke Pekanbaru menemani si adik, Siti Nurbaya," ungkap Abu Samah. (Bku)
Dugaan Korupsi APBDes Darul Aman Dilaporkan Warga ke Kejaksaan Bengkalis
BENGKALIS – Dugaan penyalahgunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Darul Aman, Kec.
Menuju Opini Kualitas Tinggi, PUPR Bengkalis Jalani Penilaian Ombudaman
BENGKALIS – Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Riau melakukan penilaian Pelayanan.
Sambangi Warga Suku Akit, KKM ISNJ Bengkalis Edukasi Cegah Pernikahan Dini dan Stunting
BENGKALIS – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Institut Syariah Negeri Junjungan (ISNJ) Ben.
Mahasiswa KKM ISNJ Jadi Dewan Juri Lomba Kebersihan Kelas SDN 20 Bantan
BENGKALIS – Suasana berbeda terlihat di SD Negeri 20 Bantan, Desa Bantan Tengah, Kecamatan Bant.
Dr Rinto Pimpin ICMI Bengkalis dengan Semangat Berpikir, Bertindak, Berdampak
BENGKALIS – Musyawarah Daerah (Musda) III Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi.
ISEI Bengkalis Gelar Pelatihan Penulisan Scopus Berbasis AI, Perkuat Kapasitas Peneliti Daerah
BENGKALIS – Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Bengkalis sukses menyelenggarakan pe.







